Tere Liye kali ini membuat Novel berjudul Tentang Kamu. Buku ini berkisah
tentang penelusuran Zaman Zulkarnaen seorang pengacara dari firma hukum di
London. Zaman bertugas untuk menelusuri kehidupan seorang wanita bernama Sri
Ningsih yang meninggalkan warisan sebanyak 1 miliar poundsterling.
Zaman lalu pergi ke Pulau Bungin tempat masa kecil dari Sri Ningsih. Pulau
Bungin adalah pulau yang terletak di provinsi NTB. Pulau ini luasnya hanya 3
hektar. Di pulau ini sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai pelaut.
Sri Ningsih pada saat meninggal berumur kurang lebih 70 tahun, itu artinya
untuk mencari tahu tentang masa kecil Sri Ningsih, Zaman harus mencari orang
yang usianya lebih dari 70 tahun untuk dapat informasi tersebut. Di pulau
Bungin sendiri tidak banyak orang yang tahu tentang Sri Ningsih. Setelah
bertemu dengan beberapa orang yang tahu sejarah tentang pulau Bungin, Zaman
akhirnya bertemu dengan pak Tua. Pak Tua adalah teman masa kecil dari Sri
Ningsih. Dari pak Tua inilah di dapat informasi bahwa kedua orang tua dari
adalah perantau dari tanah Jawa. Ibu Sri Ningsih meninggal saat melahirkannya.
Ayahnya bernama Nugroho lalu menikah lagi dengan gadis asli dari desa tersebut
yaitu Nusi Maratta. Tak berselang lama setelah pernikahan itu lahirlah adik
tiri dari Sri Ningsih bernama Tilamuta.
Kehidupan menjadi seorang pelaut menjadikan Nugroho sering pergi berminggu-minggu
untuk pergi mencari ikan. Suatu ketika, sama seperti sebelumnya, Nugroho belum
pulang ke Pulau Bungin, Sri dan Nusi khawatir. Apalagi cuaca akhir-akhir ini
cukup ekstrem, petir disertai angin kencang sering sekali terjadi. Kekhawatiran
itupun akhirnya terjawab, Nugroho meninggal. Jasadnya ditemukan tewas
teronggok di tepian sebuah pulau. Oleh Pelaut lain Nugroho dibawa kembali
kepada keluarganya di Pulau Bungin.
Meninggalnya Nugroho melengkapi kesedihan yang dialami oleh Sri Ningsih, ia kini menjadi seorang yatim piatu. Sri kini tinggal dengan ibu dan adik
tirinya. Meninggalnya Nugroho membuat psikis dari Nusi terganggu, ia sering
menumpahkan amarahnya kepada Sri, Sri ia anggap sebagai anak sial yang
menyebabkan suaminya meninggal. Amarah Nusi kepada Sri ia tumpahkan dengan
menjadikan Sri sebagai pekerja yang melayani kebutuhan Nusi dan Tilamuta. Sri
yang masih berumumr 12 tahun dipaksa bekerja mencari uang. Sri bekerja dengan
mencari binatang laut yang bisa dijual, dari pagi hingga malam Sri terus
bekerja. Pagi ia memasak dan menyiapkan keperluan untuk Nusi dan Tilam, siang
sampai sore ia pergi ke pinggir laut mencari binatang apapun yang bisa dijual,
lalu uang itu ia setorkan kepada Nusi. Malapetaka terjadi, di suatu sore rumah
yang ditinggali Sri Ningsih terbakar, kebakaran tersebut menyebabkan Nusi
meninggal. Meninggalnya Nusi membuatnya termenung, di satu sisi ia merasa lega,
karena penderitaannya berkurang, di sisi lain ia kehilangan orang tua
satu-satunya. Sri bersikap tegar dan bertekad untuk terus melaju melanjutkan
kehidupannya dengan optimis.
Fase kehidupan Sri terus berlanjut. Sri memutuskan pergi dari pulau
Bungin untuk merantau menimba ilmu di pulau Jawa tepatnya di kota Surakarta, Tilamuta ikut
serta bersamanya. Tetangga dan kerabat Sri patungan untuk membiayai biaya
perjalanan Sri ke pulau Jawa. Ia bersekolah di Madrasah milik Kiai Ma’soem. Di
madrasah ini juga yang membuatnya memahami tentang keserakahan yang yang bisa
mengubah manusia menjadi buas lebih dari hewan buas, dan juga tentang
pengkhianatan. Namun Sri tidak menyimpan dendam ataupun amarah disetiap
peristiwa yang terjadi, melainkan ia merasa telah berkhianat. Ia merasa
berkhianat karena telah memilih kejujuran dibandingkan persahabatannya.
Fase kehidupan Sri berlanjut. Ia memutuskan untuk merantau Jakarta. Di kota inilah Sri mulai
mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya. Awal merantau ke Jakarta, Sri mengajar di
sekolah anak jalanan. Bayarannya memang sedikit, tapi itu cukup bagi Sri,
setidaknya untuk membiayai hidupnya di ibukota. Selepas mengajar Sri memutuskan
untuk berjualan nasi Goreng. Dari hasil
berjualan nasi goreng ini pendapatan Sri meningkat. Sri bahkan bisa membuka
cabang untuk memperluas pemasaran nasi gorengnya. Lambat laun bisnis Sri
menurun. Pesaing semakin banyak, hal itu menyebabkan pendapatannya juga
menurun. Tapi Sri tak patah arang, jiwa bisnisnya terus terasah. Berbekal
tabungannya dari berjualan nasi goreng, ia beralih untuk mencoba bisnis baru,
sewa Rental Mobil. Sri tipikal pebisnis yang pandai mencari peluang. Kala itu
Jakarta sudah banyak dikunjungi oleh para turis, sehingga banyak membutuhkan
angkutan yang bisa mengantar mereka ke tempat-tempat yang ingin mereka
kunjungi. Bisnis rental Sri cukup berhasil. Setidaknya Sri sudah bisa
mengembalikan modal yang ia pakai untuk membeli mobil-mobilnya. Bisnis yang
cukup berkembang itu kembali dilanda kebangkrutan. Ketika itu situasi negara
sedang tidak kondusif, konflik antara masyarakat dan pemerintah tak bisa
dibendung. Pada saat itu terjadi demo besar-besaran yang berakhir pada
kericuhan dan pengrusakan terhadap fasilitas umum. Mobil-mobil rental milik Sri
pun tak luput dari pengrusakan. Malang tak bisa ditolak, rusaknya mobil-mobil
rental tersebut sekaligus menghentikan bisnis rantal mobil Sri.
Kegagalan-kegagalan yang menimpa membuat Sri menjadi pribadi yang tangguh.
Sri tidak pernah berhenti, berbagai kegagalan tersebut ia jadikan energi
positif untuk terus berproses menjadi lebih baik.
Sri tidak mau berlama-lama larut dalam keterpurukan. Ia memiliki jiwa
petualang. Sri pun memutuskan untuk meninggalkan Indonesia.Berbekal uang
simpanan yang masih ia punya.Ia merantau ke Eropa, tepatnya di London, Inggris.
di London Sri bekerja sebagai supir bus, keterampilan menjadi supir ia dapat
saat menjalankan bisnis rental mobil di Jakarta. Sri menikmati pekerjaannya.
Setiap hari ia mengantar para penumpang yang naik di bus yang ia kendarai.
Menjadi Supir bus membuat ia banyak bertemu dengan berbagai orang. Di Bus
ini pulalah ia bertemu dengan seorang Pria yang kelak menjadi suaminya. Pria
tersebut adalah Hakan Yakin. Hakan Yakin adalah imigran dari Turki yang bekerja
di perusahaan komputer di London. Tempat tinggal Hakan menuju tempat kerjanya
cukup jauh, jadi harus menaiki kendaraan umum setiap harinya. Setiap hari
menaiki bus yang dikemudikan Sri. Pertemuan demi pertemuan menumbuhkan benih
cinta diantara Hakan dan Sri. Pertemuan mereka setiap harinya tidak berlangsung
lama. Hakan hanya menyapa Sri saat naik dan turun dari Bus. Begitulah setiap
harinya. Sampai akhirnya Hakan memberanikan diri untuk menyatakan niatnya
menikahi Sri.
Pernikahan Sri dan Hakan berjalan dengan tentam dan rukun. Hakan di
perusahaannya mendapatkan jabatan yang cukup strategis sehingga penghasilannya
le bih dari cukup untuk membiayai kehidupan ia dan Sri. Walaupun Hakan
penghasilannya sudah lebih dari cukup, tapi tetap saja Sri ingin bekerja. Pada
usia pernikahan 3 bulan Sri dinyatakan hamil. Ia dan Hakan sangat bersyukur dengan
kehamilan tersebut. Hakan merasa khawatir apabila Sri tetap bekerja dalam
keadaan hamil. Hakan meminta Sri untuk berhenti bekerja. Namun, Sri menolak, ia
tetap ingin bekerja. Malang tak dapat ditolak, kondisi fisik yang terkuras
menyebabkan Janin yang ada di dalam perut Sri akhirnya tak terselamatkan. Sri
keguguran.
Gugurnya Bayi yang dikandung Sri dirasakan sangat menyedihkan bagi Sri dan
Hakan. Kesedihan bagi Sri bertambah tak lama dari keguguran, Hakan juga
meninggal. Hakan meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya. Lengkap
lah sudah penderitaan Sri. Tinggallah ia menjadi sebatang kara.
Sri ditinggalkan Hakan tidak dengan keadaan miskin. Hakan yang pada
akhirnya menjabat sebagai direktur utama diperusahaannya meninggalkan harta
yang melimpah bagi Sri. Total Harta yang dimiliki Sri adalah senilai kurang
lebih 1 juta poundsterling.
Sri yang sebelumnya tinggal di London, Inggris memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Ia memilih untuk tinggal di
Panti Jompo di kota Paris, tepatnya di dekat menara Eiffel. Di Panti ini Sri
menulis Diary kisah perjalanan hidupnya. Mulai dari lahir yaitu di pulau
Bungin, NTT hingga tempat ia tinggal sekarang, Paris Prancis.
Sekian dulu ya... untuk selanjutnya silahkan dibaca bukunya. :-D

No comments:
Post a Comment