Halaman

Buku Tentang Kamu

Tere Liye kali ini membuat Novel berjudul Tentang Kamu. Buku ini berkisah tentang penelusuran Zaman Zulkarnaen seorang pengacara dari firma hukum di London. Zaman bertugas untuk menelusuri kehidupan seorang wanita bernama Sri Ningsih yang meninggalkan warisan sebanyak 1 miliar poundsterling.
Penelusuran itu dimulai dari tempat terakhir Sri Ningsih meninggal, yaitu di di sebuah panti jompo di dekat Menara Eiffel, Paris Prancis. Dari teman-teman Sri Ningsih, Zaman diberikan sebuah catatan harian harian milik dari Sri Ningsih sebagai petunjuk awal. Tidak banyak informasi yang bisa diambil dari catatan harian tersebut. Informasi yang didapat hanya tempat masa kecil Sri Ningsih, Pulau Bungin.

Zaman lalu pergi ke Pulau Bungin tempat masa kecil dari Sri Ningsih. Pulau Bungin adalah pulau yang terletak di provinsi NTB. Pulau ini luasnya hanya 3 hektar. Di pulau ini sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai pelaut. Sri Ningsih pada saat meninggal berumur kurang lebih 70 tahun, itu artinya untuk mencari tahu tentang masa kecil Sri Ningsih, Zaman harus mencari orang yang usianya lebih dari 70 tahun untuk dapat informasi tersebut. Di pulau Bungin sendiri tidak banyak orang yang tahu tentang Sri Ningsih. Setelah bertemu dengan beberapa orang yang tahu sejarah tentang pulau Bungin, Zaman akhirnya bertemu dengan pak Tua. Pak Tua adalah teman masa kecil dari Sri Ningsih. Dari pak Tua inilah di dapat informasi bahwa kedua orang tua dari adalah perantau dari tanah Jawa. Ibu Sri Ningsih meninggal saat melahirkannya. Ayahnya bernama Nugroho lalu menikah lagi dengan gadis asli dari desa tersebut yaitu Nusi Maratta. Tak berselang lama setelah pernikahan itu lahirlah adik tiri dari Sri Ningsih bernama Tilamuta.
Kehidupan menjadi seorang pelaut menjadikan Nugroho sering pergi berminggu-minggu untuk pergi mencari ikan. Suatu ketika, sama seperti sebelumnya, Nugroho belum pulang ke Pulau Bungin, Sri dan Nusi khawatir. Apalagi cuaca akhir-akhir ini cukup ekstrem, petir disertai angin kencang sering sekali terjadi. Kekhawatiran itupun akhirnya terjawab, Nugroho meninggal. Jasadnya ditemukan tewas teronggok di tepian sebuah pulau. Oleh Pelaut lain Nugroho dibawa kembali kepada keluarganya di Pulau Bungin.
Meninggalnya Nugroho melengkapi kesedihan yang dialami oleh Sri Ningsih, ia kini menjadi seorang yatim piatu. Sri kini tinggal dengan ibu dan adik tirinya. Meninggalnya Nugroho membuat psikis dari Nusi terganggu, ia sering menumpahkan amarahnya kepada Sri, Sri ia anggap sebagai anak sial yang menyebabkan suaminya meninggal. Amarah Nusi kepada Sri ia tumpahkan dengan menjadikan Sri sebagai pekerja yang melayani kebutuhan Nusi dan Tilamuta. Sri yang masih berumumr 12 tahun dipaksa bekerja mencari uang. Sri bekerja dengan mencari binatang laut yang bisa dijual, dari pagi hingga malam Sri terus bekerja. Pagi ia memasak dan menyiapkan keperluan untuk Nusi dan Tilam, siang sampai sore ia pergi ke pinggir laut mencari binatang apapun yang bisa dijual, lalu uang itu ia setorkan kepada Nusi. Malapetaka terjadi, di suatu sore rumah yang ditinggali Sri Ningsih terbakar, kebakaran tersebut menyebabkan Nusi meninggal. Meninggalnya Nusi membuatnya termenung, di satu sisi ia merasa lega, karena penderitaannya berkurang, di sisi lain ia kehilangan orang tua satu-satunya. Sri bersikap tegar dan bertekad untuk terus melaju melanjutkan kehidupannya dengan optimis.
Fase kehidupan Sri terus berlanjut. Sri memutuskan pergi dari pulau Bungin untuk merantau menimba ilmu di pulau Jawa tepatnya di kota Surakarta, Tilamuta ikut serta bersamanya. Tetangga dan kerabat Sri patungan untuk membiayai biaya perjalanan Sri ke pulau Jawa. Ia bersekolah di Madrasah milik Kiai Ma’soem. Di madrasah ini juga yang membuatnya memahami tentang keserakahan yang yang bisa mengubah manusia menjadi buas lebih dari hewan buas, dan juga tentang pengkhianatan. Namun Sri tidak menyimpan dendam ataupun amarah disetiap peristiwa yang terjadi, melainkan ia merasa telah berkhianat. Ia merasa berkhianat karena telah memilih kejujuran dibandingkan persahabatannya.
Fase kehidupan Sri berlanjut. Ia memutuskan untuk merantau  Jakarta. Di kota inilah Sri mulai mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya. Awal merantau ke Jakarta, Sri mengajar di sekolah anak jalanan. Bayarannya memang sedikit, tapi itu cukup bagi Sri, setidaknya untuk membiayai hidupnya di ibukota. Selepas mengajar Sri memutuskan untuk berjualan  nasi Goreng. Dari hasil berjualan nasi goreng ini pendapatan Sri meningkat. Sri bahkan bisa membuka cabang untuk memperluas pemasaran nasi gorengnya. Lambat laun bisnis Sri menurun. Pesaing semakin banyak, hal itu menyebabkan pendapatannya juga menurun. Tapi Sri tak patah arang, jiwa bisnisnya terus terasah. Berbekal tabungannya dari berjualan nasi goreng, ia beralih untuk mencoba bisnis baru, sewa Rental Mobil. Sri tipikal pebisnis yang pandai mencari peluang. Kala itu Jakarta sudah banyak dikunjungi oleh para turis, sehingga banyak membutuhkan angkutan yang bisa mengantar mereka ke tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi. Bisnis rental Sri cukup berhasil. Setidaknya Sri sudah bisa mengembalikan modal yang ia pakai untuk membeli mobil-mobilnya. Bisnis yang cukup berkembang itu kembali dilanda kebangkrutan. Ketika itu situasi negara sedang tidak kondusif, konflik antara masyarakat dan pemerintah tak bisa dibendung. Pada saat itu terjadi demo besar-besaran yang berakhir pada kericuhan dan pengrusakan terhadap fasilitas umum. Mobil-mobil rental milik Sri pun tak luput dari pengrusakan. Malang tak bisa ditolak, rusaknya mobil-mobil rental tersebut sekaligus menghentikan bisnis rantal mobil Sri.
Kegagalan-kegagalan yang menimpa membuat Sri menjadi pribadi yang tangguh. Sri tidak pernah berhenti, berbagai kegagalan tersebut ia jadikan energi positif untuk terus berproses menjadi lebih baik.
Sri tidak mau berlama-lama larut dalam keterpurukan. Ia memiliki jiwa petualang. Sri pun memutuskan untuk meninggalkan Indonesia.Berbekal uang simpanan yang masih ia punya.Ia merantau ke Eropa, tepatnya di London, Inggris. di London Sri bekerja sebagai supir bus, keterampilan menjadi supir ia dapat saat menjalankan bisnis rental mobil di Jakarta. Sri menikmati pekerjaannya. Setiap hari ia mengantar para penumpang yang naik di bus yang ia kendarai.
Menjadi Supir bus membuat ia banyak bertemu dengan berbagai orang. Di Bus ini pulalah ia bertemu dengan seorang Pria yang kelak menjadi suaminya. Pria tersebut adalah Hakan Yakin. Hakan Yakin adalah imigran dari Turki yang bekerja di perusahaan komputer di London. Tempat tinggal Hakan menuju tempat kerjanya cukup jauh, jadi harus menaiki kendaraan umum setiap harinya. Setiap hari menaiki bus yang dikemudikan Sri. Pertemuan demi pertemuan menumbuhkan benih cinta diantara Hakan dan Sri. Pertemuan mereka setiap harinya tidak berlangsung lama. Hakan hanya menyapa Sri saat naik dan turun dari Bus. Begitulah setiap harinya. Sampai akhirnya Hakan memberanikan diri untuk menyatakan niatnya menikahi Sri.
Pernikahan Sri dan Hakan berjalan dengan tentam dan rukun. Hakan di perusahaannya mendapatkan jabatan yang cukup strategis sehingga penghasilannya le bih dari cukup untuk membiayai kehidupan ia dan Sri. Walaupun Hakan penghasilannya sudah lebih dari cukup, tapi tetap saja Sri ingin bekerja. Pada usia pernikahan 3 bulan Sri dinyatakan hamil. Ia dan Hakan sangat bersyukur dengan kehamilan tersebut. Hakan merasa khawatir apabila Sri tetap bekerja dalam keadaan hamil. Hakan meminta Sri untuk berhenti bekerja. Namun, Sri menolak, ia tetap ingin bekerja. Malang tak dapat ditolak, kondisi fisik yang terkuras menyebabkan Janin yang ada di dalam perut Sri akhirnya tak terselamatkan. Sri keguguran.
Gugurnya Bayi yang dikandung Sri dirasakan sangat menyedihkan bagi Sri dan Hakan. Kesedihan bagi Sri bertambah tak lama dari keguguran, Hakan juga meninggal. Hakan meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya. Lengkap lah sudah penderitaan Sri. Tinggallah ia menjadi sebatang kara.
Sri ditinggalkan Hakan tidak dengan keadaan miskin. Hakan yang pada akhirnya menjabat sebagai direktur utama diperusahaannya meninggalkan harta yang melimpah bagi Sri. Total Harta yang dimiliki Sri adalah senilai kurang lebih 1 juta poundsterling.
Sri yang sebelumnya tinggal di London, Inggris memutuskan untuk pindah  tempat tinggal. Ia memilih untuk tinggal di Panti Jompo di kota Paris, tepatnya di dekat menara Eiffel. Di Panti ini Sri menulis Diary kisah perjalanan hidupnya. Mulai dari lahir yaitu di pulau Bungin, NTT hingga tempat ia tinggal sekarang, Paris Prancis.

Sekian dulu ya... untuk selanjutnya silahkan dibaca bukunya. :-D

No comments: