Halaman

Pergerakan Mahasiswa : Sebelum dan Pasca Reformasi


Diskursus tentang peran mahasiswa bagi arah perubahan bangsa selalu menarik untuk dibahas. Betapa tidak, kaum terpelajar ini diakui atau tidak menjadi penggerak utama berbagai momentum perubahan selama atau bahkan sebelum negara ini merdeka. Di setiap masa mahasiswa menjadi aktor dibalik berbagai peristiwa penting yang terjadi pada bangsa ini.
Peran pemuda mahasiswa dalam berbagai massa memiliki peran dan romantikanya masing-masing. Namun dalam tulisan ini, penulis ingin membahas pergerakan mahasiswa sebelum (khususnya era Soeharto) dan pasca terjadinya reformasi.

Tumbangnya Soeharto pada tahun 1998 menjadi bukti otentik bahwa pergerakan mahasiswa punya penting terhadap beralihnya sistem pemerintahan Bangsa Indonesia dari era Orde Baru ke era Reformasi. Orde baru yang mengusung pemerintahan sentralistik dianggap menjadi penyebab terjadinya praktik-praktik korupsi kolusi dan nepotisme (KKN). Mahasiswa saat itu bersatu, aksi demontrasi dilakukan secara besar-besaran dan dilakukan di berbagai kota di tanah air. Puncaknya, mahasiswa mengepung gedung DPR-MPR RI dan memaksa agar Soeharto yang telah berkuasa selama lebih dari 3 dekade untuk mundur dari jabatannya. Cap sebagai agen perubahan sangat pantas dilekatkan pada mahasiswa kala itu. 
Bagaimana dengan sekarang ?

Romantika gemilangnya peran mahasiswa saat menumbangkan pemerintahan Orde Baru sepertinya hampir mustahil diwujudkan di era sekarang. Reformasi justru menjadikan mahasiswa malah terpecah belah. Disadari atau tidak, pemerintahan sentralistik yang diusung Soeharto dengan menjadikan partai Golkar sebagai partai yang dominan di pemerintah menyebabkan mahasiswa memiliki musuh yang sama yaitu pemerintah. Dominannya partai Golkar menyebabkan partai-partai lain kurang dapat berkembang karena ruang-ruang untuk membesarkan partai telah ditutup rapat-rapat, sehingga celah untuk masuk dalam struktur pemerintahan melalui selain partai Golkar menjadi hal yang mustahil. 
Tumbangnya orde baru juga turut memperlemah dominasi partai Golkar. Era reformasi melalui UU No. 2 Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan dengan UU No. 31 Tahun 2002 memungkinkan lahirnya partai-partai baru dalam percaturan kepartaian di Indonesia. Namun dari sekian banyak partai hanya ada 5 partai yang memperoleh suara yang signifikan yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN). 
Kelahiran massa reformasi turut berimbas bagi peta pergerakan mahasiswa. Dahulu saat massa orde baru mahasiswa cenderung mempunyai musuh bersama yaitu pemerintah. Orde baru dimusuhi karena dinilai sebagai rezim otoriter dan mengekang kebebasan berpendapat. Ketidaksukaan terhadap rezim orde baru juga diperkuat dengan praktek kolusi dan korupsi dan nepotisme. Rezim Soeharto merupakan sebuah rezim yang kuat dengan aroma nepotisme. Ini bisa dilihat bagaimana kroni-kroni Soeharto mengisi jabatan-jabatan penting di setiap struktur pemerintahan. Sehingga sangat sulit orang-orang yang tidak punya ikatan kekeluargaan ataupun kedekatan dengan sang Presiden untuk memperoleh kekuasaan. Kekuasaan oligarki inilah yang mendorong ketidaksukaan mahasiswa terhadap rezim orde baru. 
Lahirnya reformasi menyebabkan mahasiswa tidak lagi bersatu. Sebagian besar malah ikut sebagai mesin politik, masuk menjadi bagian dari partai politik. Ya, fakta inilah yang terjadi saat ini. Hal ini mengakibatkan mahasiswa menjadi terpecah belah ikut dengan perpecahan yang ada di kalangan elit partai politik mereka masing-masing.

Politisasi kampus juga merupakan imbas dari masuknya entitas mahasiswa dalam partai politik. Mahasiswa kader partai politik tersebut menduduki jabatan strategis di organisasi kemahasiswaan. Sehingga tidak heran dalam berbagai kegiatan mereka memberikan ruang bagi calon kepala daerah dari partai yang terafiliasi dengannya untuk menjadi pemateri sekaligus untuk berkampanye. Dorongan melakukan hal itu juga disebabkan tergiur dengan sejumlah uang yang diberikan oleh sang calon kepala daerah.

Mahasiswa dibungkam. 
Faktor lainnya yang menyebabkan mahasiswa di era reformasi menjadi tumpul adalah adanya serangkaian kebijakan dan kondisi baik yang diciptakan melalui kebijakan pemerintah maupun diluar kendali pemerintah.
Ada berbagai hal yang menyebabkan mahasiswa dibungkam. Pertama, biaya pendidikan yang mahal. Pemerintah yang sadar bahwa mahasiswa merupakan salah satu ancaman bagi jalannya pemerintahan sehingga berusaha membuat mahasiswa tidak banyak berpikir tentang bagaimana jalannya pemerintahan dengan membuat mahal biaya pendidikan. Biaya pendidikan yang mahal menyebabkan mahasiswa cenderung lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan pendidikannya secara cepat. Akhirnya mahasiswa tidak berani mengambil resiko untuk belajar lebih banyak di organisasi mahasiswa. Akhirnya banyak mahasiswa saat ini yang tidak peduli dengan jalannya pemerintahan negara ini. 
Kedua, di dalam ruang perkuliahan, tak ada aktivitas pemantik sikap kritis mahasiswa. Dosen yang sekiranya sebagai subjek yang memberi stimulus bagi mahasiswa agar lebih kritis, ternyata selalu tak demikian. Kebanyakan dosen hanya mengajarkan mata kuliah untuk sekadar kebutuhan kerja, seolah mahasiswa direduksi hanya sebatas makhluk pekerja. Sementara memperkenalkan  dengan kritis kondisi sosial, politik dan budaya, serta mengintegrasikannya dengan mata kuliah,  jarang dilakukan oleh dosen. Sehingga dari sini, mahasiswa tak terbiasa melakukan refleksi kritis, dan hanya menerima begitu saja segenap wacana yang disampaikan oleh para dosen
Ketiga, budaya hedonisme telah menjalar ke sebagian besar mahasiswa. Mahasiswa cenderung lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan hal-hal yang berkaitan dengan hiburan seperti fashion , main ke diskotik ketimbang ikut dalam forum-forum diskusi. Hal tersebut relatif berpengaruh. Mahasiswa akhirnya cenderung tidak kritis, sebab aktivitas demikian dianggap tidak memberi tawaran hidup yang nyaman, menyenangkan, dan tidak populis.
Situasi diatas justru sangat mengkhawatirkan. Mahasiswa yang sejatinya menjadi garda terdepan untuk melawan penguasa yang zholim  justru malah asyik dengan dirinya sendiri. Kita memang masih melihat beberapa mahasiswa yang konsisten kritis terhadap kebijakan pemerintah, namun jumlahnya sangat sedikit. 
Semoga tulisan ini bisa menjadi refleksi kita semua tidak hanya untuk mahasiswa tapi juga bagi setiap individu rakyat. Mahasiswa hanyalah bagian dari perubahan, namun yang paling utama adalah individu rakyat sendiri. Rakyat lah yang harus bepikir tentang ke arah manakah bangsa ini kelak akan dibawa.