Travelling time..... senang sekali rasanya untuk bisa
travelling lagi. kali ini saya akan mengunjungi sebuah desa di wilayah teluk Semangka, kabupaten Tanggamus. Adalah Tampang Tua nama desa itu. Desa ini terletak di
paling ujung di Teluk Semangka kabupaten Tanggamus. Layaknya desa di pinggir
laut pada umumnya. Di desa ini banyak pohon kelapa di pinggir pantai, batu
karang dan pasir putih menghiasi sepanjang pantai desa ini. Setiap hari deburan
ombak dan desir angin menjadi pemandangan yang tiap hari dapat dinikmati. Sungguh suasana yang
menyejukkan. Di wilayah ujung teluk Semangka ini terdapat beberapa desa
yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Selain
desa Tampang Tua, ada juga desa lain yaitu Tampang Muda, Martanda dan Limus.
Pernahkah kalian mendengan Tambling Nature Wildlife
Concervation (TNWC) ? TNWC adalah sebuah tempat konservasi hewan hewan yang ada
di TNBBS seperti Harimau, Gajah, dan hewan lainnya. TNWC dikelola atas
kerjasama antara kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan sebuah
yayasan yang bernama Artha Graha. Artha Graha ini yayasan yang dimiliki oleh
Tommy Winata. Tommy Winata adalah salah satu orang
terkaya di Indonesia. Artha Graha mengelola kawasan ini sejak 2007. Tidak semua
wilayah TNBBS yang dikelola, tapi hanya sekitar 45.000 hektare (luas juga ya?).
Saya tidak sampai mengunjungi ke wilayah konservasi Tambling. Tapi itu
setidaknya cukup menambah pengentahuan saya tentang wilayah ini. Saya hanya
mengunjungi desa Tampang saja.
Suasana di desa Tampang
Desa Tampang beserta desan-desa lainnya di wilayah teluk
Semangka ini bisa dibilang masih cukup terisolir. Wilayah ini belum teraliri
listrik oleh PLN. Warga di wilayah ini pada siang hari tidak memakai listrik.
Sedangkan pada malam hari mereka menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya
(PLTS). Selain listrik yang terbatas di wilayah ini sinyal HP pun sangat susah. Di wilayah desa Tampang sendiri hanya di sekitaran
rumah kepala desa yang sinyalnya kuat.
Wilayah ujung teluk Semangka ini akses jalan masih sangat
terbatas. Di wilayah ini terdapat 9 desa (kalau tidak
salah. Hehehe). Untuk menuju ke desa-desa tersebut tidak bisa dilalui menggunakan kendaraan roda empat alias mobil. Karena lebar jalan yang hanya
kurang lebih 2 meter. Hanya kendaraan roda dua (motor) yang bisa melewati jalan
tersebut. Meskipun sebagian besar jalan sudah di semen, tapi tetap saja butuh konsentrasi yang ekstra agar tidak terjatuh saat berkendara karena kondisi alam nya yang berbukit. Walaupun
sebagian besar jalannya sudah di semen, tetap saja sangat tidak
disarankan untuk pergi ke wilayah ini apabila kondisi alam sedang hujan, karena masih ada jalan yang belum di
semen alias masih tanah, jadi ketika hujan tanah akan berubah menjadi lempung
yang akan menyulitkan kendaraan untuk berjalan.
Selain akses lewat darat, teman-teman juga bisa menggunakan akses melalui laut. Masyarakat di wilayah ini
memang lebih banyak menggunakan alat transportasi laut dibanding darat.
Alasannya ya itu tadi, kondisi jalan darat yang masih kurang baik. Kapal-kapal
disini menggunakan rute sekitaran desa Tampang – Kotaagung, lalu ada juga rute
Pulau Tabuan – Kotaagung, Biaya transportasi laut ini bisa dibilang cukup
mahal. Dari Kotaagung ke desa Tampang Tua misalnya. Saya kesana menggunakan sepeda motor, sehingga motor saya juga diangkut ke atas kapal. Penumpang dan barang bawaan pertama-tama diangkut ke perahu kecil untuk
dinaikkan ke kapal, biaya angkut ini disebut biaya buruh. Biaya buruh ini untuk
membayar para kuli yang membantu mengangkut motor saya dari bibir dermaga ke
kapal. Biaya buruh ini 40ribu. Kalau untuk penumpang biaya buruh ini
seikhlasnya saja, bisa 5 ribu atau 10 ribu. Kalau untuk penumpang biayanya sama Rp 40 ribu juga. Selanjutnya kapal mulai berlayar. Perjalanan dari dermaga
Kotaagung ke Tampang kurang lebih sekitar 3,5 Jam. Sepanjang perjalanan
teman-teman akan disuguhkan dengan pemandangan laut. Dari kejauhan teman-teman
juga akan melihat bukit-bukit yang masuk ke wilayah TNBBS]. Ada juga kapal milik
pertamina yang sedang berlayar mengangkut minyak, dan keramba ikan milik nelayan. Setelah 3,5 jam perjalanan akhirnya saya sampai di desa Tampang. Proses penurunan Penumpang dan Barang bawaan sama seperti ketika berangkat. Penumpang dan barang bawaan tersebut dipindahkan dulu ke perahu kecil lalu selanjutnya diantarkan ke bibir pantai. Biaya Buruh untuk memindahkan motor saya ke bibir pantai sama seperti di Dermaga Kotaagung yaitu Rp 40 ribu.
Itulah sekelumit cerita perjalanan saya ke wilayah ujung
Teluk Semangka ini. Semoga bermanfaat.






No comments:
Post a Comment